Rabu, 28 Oktober 2015

Poster Blue Band Repro

Poster Blue Band repro
Bahan : Kertas Ivory 260 gram
Ukuran : A3+ (31,8x48 cm)
Harga Rp 50.000,- sudah termasuk ongkos kirim

Minggu, 11 Oktober 2015

Dua Gambar Kertas Repro

2 gambar kertas repro
Ukuran 21x31 cm
Sudah dipigura
Harga Rp 150.000,- semuanya belum termasuk ongkos kirim

6 Iklan Majalah Lama

6 Iklan dari majalah lama
Harga Rp 300.000,- semuanya belum termasuk ongkos kirim. Atau Rp 90.000,- semuanya hanya iklannya saja tanpa pigura, belum termasuk ongkos kirim

Selasa, 06 Oktober 2015

Reklame Obat Batuk Cap Suster

Reklame Obat Batuk Cap Suster
Bahan : kaleng/ seng
Harga Rp 100.000,- belum termasuk ongkos kirim

Kamis, 09 Mei 2013

Reklame Jamu Djago Artis Gaun Merah

Reklame Jamu Djago Artis Gaun Merah
Ukuran : 8,5 x 7 cm
Harga : Rp 7.000,-

Kartu Promo Jamu Jago Horoscop Pisces



Kartu Promo Jamu Jago Horoscop Pisces
Ukuran : 8,4 x 5,7 cm
Pada bagian belakangnya tercetak kata-kata mutiara
Harga Rp 10.000,-

Kartu Promo Iklan Reklame Jamu Jago Binaragawan


Kartu promo iklan reklame jamu Jago Binaragawan
Ukuran : 9 x 7 cm Harga : Rp 10.000,-

Gambar Artis dan Jamu Jago


Ukuran : 8,5 x 7 cm
Harga Rp 7.000,-

Selasa, 02 April 2013

Brosur Film Eeh Ketemu Lagi Tuyul Ateng Iskak




Brosur Film Eeh Ketemu Lagi Tuyul Ateng Iskak
Tebal : 16 halaman Full Color
Ukuran brosur : 24 x 16  cm
Harga : Rp 40.000,-
SUDAH HABIS TERJUAL

Senin, 01 April 2013

Buku Bruce Lee Berbahasa Mandarin






Buku Bruce Lee Berbahasa Mandarin
Tebal 50 halaman
Harga : Rp 75.000,-

SUDAH TERJUAL

Jumat, 29 Maret 2013

Buku Komik Reklame Gibs Dentifrice





Buku Komik Reklame Ksatria Gibs
Penerbit : Gibs Dentifrice
Ukuran buku : 10 x 18,5 cm
Tebal : 28 Halaman
Harga " Rp 40.000,-

Buku Komik Reklame Pasta Gigi Gibs





Buku Komik Reklame Pasta Gigi Gibs
Penerbit : GIBBS DENTIFRILE
 Tebal : 28 halaman
Ukuran buku : 10 x 18,5 cm
Harga : Rp 40.000,-

Sabtu, 01 Desember 2012

Postcard Koes Ploes


Era Orde Lama


Grup yang berasal dari Kelurahan Sendangharjo, Tuban, Jawa Timur ini merupakan alumnus SMK Negeri 1 Tuban dan pada akhirnya menjadi pelopor musik pop dan rock 'n roll, bahkan pernah dipenjara karena musiknya yang dianggap mewakili aliran politik kapitalis. Di saat itu sedang garang-garangnya gerakan anti kapitalis di Indonesia.

Pada Kamis 1 Juli 1965, kakak beradik Tony, Yon, dan Yok Koeswoyo ditangkap oleh sepasukan tentara dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI). Kemudian mereka dikurung di penjara Glodok. Tak berapa lama setelah itu datanglah ke penjara : Nomo Koeswoyo untuk bergabung dengan saudara-saudaranya di penjara. Itu atas kesadarannya sendiri.

Mereka dituduh bersalah karena selalu memainkan lagu - lagu The Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu.

Mereka dianggap memainkan musik "ngak ngik ngok" ; istilah Bung Karno terhadap musik dari Barat. Didalam penjara itu Koes Bersaudara justru produktif mencipta lagu-lagu yang menarik, seperti : "Didalam Bui", "jadikan aku dombamu", "to the so called the guilties", dan "balada kamar 15".

Tanggal 29 September 1965, sehari sebelum meletus G 30 S-PKI, mereka dibebaskan tanpa alasan yang jelas.
Koes Ploes dibentuk pada tahun 1969, sebagai kelanjutan dari kelompok “Koes Bersaudara”.

Dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus

Dari kelompok Koes Bersaudara ini lahir lagu-lagu yang sangat populer seperti “Bis Sekolah”,“ Di Dalam Bui”, “Telaga Sunyi”, “Laguku Sendiri” dan masih banyak lagi. Satu anggota Koes Bersaudara, Nomo Koeswoyo keluar dan digantikan Murry sebagai drummer. Walaupun penggantian ini awalnya menimbulkan masalah dalam diri salah satu personalnya yakni Yok yang keberatan dengan orang luar. Nama Bersaudara seterusnya diganti dengan Plus, artinya plus orang luar: Murry.

Sebenarnya lagu-lagu Koes Bersaudara lebih bagus dari segi harmonisasi ( seperti lagu “Telaga Sunyi”, “Dewi Rindu” atau “Bis Sekolah”) dibanding lagu-lagu Koes Plus. Saat itu Nomo, selain bermusik juga mempunya pekerjaan sampingan. Sementara Tonny menghendaki totalitas dalam bermusik yang membuat Nomo harus memilih.

Akhirnya Koes Bersaudara harus berubah. Kelompok Koes Plus dimotori oleh almarhum Tonny Koeswoyo (anggota tertua dari keluarga Koeswoyo). Koes Plus dan Koes Bersaudara harus dicatat sebagai pelopor musik pop di Indonesia. Sulit dibayangkan sejarah musik pop kita tanpa kehadiran Koes Bersaudara dan Koes Plus.
.

Tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan Koes Bersaudara. Kemudian tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial volume 1, 2 dan seterusnya. Begitu dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat simpati dari pecinta musik Indonesia. Piringan hitam album pertamanya sempat ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan mentertawakan lagu “Kelelawar” yang sebenarnya asyik itu.

Kemudian Murry sempat ngambek dan pergi ke Jember sambil membagi-bagikan piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Dia bekerja di pabrik gula sekalian main band bersama Gombloh dalam grup musik Lemon Trees. Tonny Koeswoyo kemudian menyusul Murry untuk diajak kembali ke Jakarta.

Baru setelah lagu “Kelelawar” diputar di RRI orang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa waktu kemudian lewat lagu-lagunya “Derita”, “Kembali ke Jakarta”, “Malam Ini”, “Bunga di Tepi Jalan” hingga lagu “Cinta Buta”, Koes Plus mendominasi musik Indonesia waktu itu.

Postcard Koes Ploes

TERJUAL
SUDAH TERJUAL

Rabu, 31 Oktober 2012

Reklame Biskuit Huntley

















Reklame ini katalog produk biskuit Huntley. Yang menarik adalah kata-katanya yang masih menggunakan ejaan lama dan bahasa Melayu lama.
Ukuran : 18 x 11,5 cm
Jumlah : 9 lembar.
Bahan : Kertas HVS
Asli, Original
Harga : Rp 135.000 untuk 9 lembar.